Connect with us

Pengertian

Pengertian Norma, Macam-macam Norma dan Apa yang Dimaksud Norma Hukum

Pengertian norma  pada umumnya adalah aturan dan peraturan yang kelompok hidup dengan. Atau mungkin karena kata-kata, aturan dan peraturan, mengingatkan kita pada semacam daftar formal, kita mungkin merujuk pada norma sebagai standar perilaku kelompok. Untuk sementara beberapa standar perilaku yang sesuai di sebagian besar masyarakat dituliskan, banyak dari mereka tidak begitu formal. Banyak yang dipelajari, secara informal, dalam interaksi dengan orang lain dan diloloskan “dari generasi ke generasi.

Istilah “norma” mencakup berbagai perilaku yang sangat luas. Sehingga seluruh rentang perilaku itu dapat dimasukkan. Sosiolog telah menawarkan definisi berikut. Norma-norma sosial adalah aturan yang dikembangkan oleh sekelompok orang yang menentukan bagaimana orang harus, seharusnya, boleh, tidak seharusnya, dan tidak boleh berperilaku dalam berbagai situasi.

Beberapa norma didefinisikan oleh individu dan masyarakat sebagai hal penting bagi masyarakat. Sebagai contoh, semua anggota kelompok diminta untuk mengenakan pakaian dan mengubur mereka yang mati. Seperti “keharusan” sering diberi label “adat istiadat”, istilah yang diciptakan oleh sosiolog Amerika William Graham Sumner.

Banyak norma sosial berkaitan dengan “seharusnya”; yaitu, ada beberapa tekanan pada individu untuk menyesuaikan tetapi ada beberapa kelonggaran yang diizinkan juga. ‘Perilaku yang harus dilakukan’ adalah apa yang disebut Sumner “cara rakyat”; yaitu, cara-cara konvensional dalam melakukan hal-hal yang tidak didefinisikan sebagai hal yang penting bagi kelangsungan hidup individu atau masyarakat. ‘Perilaku yang harus dilakukan’ dalam masyarakat kita sendiri termasuk resep bahwa pakaian orang harus bersih, dan bahwa kematian harus diakui dengan pemakaman umum. Daftar lengkap perilaku yang harus dilakukan dalam masyarakat yang kompleks hampir tanpa akhir.

Kata “Mungkin” dalam definisi norma menunjukkan bahwa, dalam sebagian besar kelompok, ada berbagai macam perilaku di mana individu diberikan pilihan yang cukup. Untuk melanjutkan ilustrasi, di negara-negara Barat para gadis dapat memilih untuk mengenakan gaun atau halter dan celana jins. Diet dapat dilakukan melalui pelatih di gym atau melalui manfaat kupon Medifast, beberapa orang bahkan mungkin lebih suka diet yang diiklankan di tv. Pemakaman dapat diadakan dengan atau tanpa bunga, dengan peti mati terbuka atau tertutup, dengan atau tanpa partisipasi agama, dan seterusnya. Kami telah membatasi contoh-contoh kami hanya pada tiga bidang, tetapi para siswa harus dapat membangun contoh mereka sendiri dari semua bidang kehidupan.

Sisa dari definisi, termasuk perilaku ‘harus-tidak’ dan ‘harus-tidak’, mungkin tidak memerlukan ilustrasi yang panjang karena contoh-contoh tersebut tersirat dalam apa yang telah dikatakan. Orang tidak boleh bersendawa di depan umum, membuang sampah di jalan, menjalankan tanda berhenti, atau berbohong. Seseorang tidak boleh membunuh orang lain atau melakukan hubungan seksual dengan saudara atau saudari seseorang.

Pengertian Norma Menurut Ahli

  1. John J. Macionis : Norma adalah aturan-aturan dan harapan-harapan masyarakat untuk memandu perilaku-perilaku anggotanya
  2. Robert Mz. Lawang : Norma adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan baik dan pantas sehingga sejumlah anggapan yang baik dan perlu dihartgai sebagaimana mestinya.
  3. Hans Kelsen : Norma adalah perintah yang tidak personal dan anonim
  4. Soerjono Soekano : Norma adalah suatu perangkat agar hubungan antar masyarakat terjalin dengan baik

 

Macam-macam Norma

Dalam kehidupan umat manusia terdapat bermacam-macam norma, yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, norma hukum dan lain-lain. Norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum digolongkan sebagai norma umum. Selain itu dikenal juga adanya norma khusus, seperti aturan permainan, tata tertib sekolah, tata tertib pengunjung tempat bersejarah dan lain-lain.

  1. Norma Agama : Norma agama adalah aturan-aturan hidup yang berupa perintah-perintah dan larangan-larangan, yang oleh pemeluknya diyakini bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Aturan-aturan itu tidak saja mengatur hubungan vertikal, antara manusia dengan Tuhan (ibadah), tapi juga hubungan horisontal, antara manusia dengan sesama manusia. Pada umumnya setiap pemeluk agama menyakini bawa barang siapa yang mematuhi perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan Tuhan akan memperoleh pahala. Sebaliknya barang siapa yang melanggarnya akan berdosa dan sebagai sanksinya, ia akan memperoleh siksa. Sikap dan perbuatan yang menunjukkan kepatuhan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tersebut disebut taqwa.
  2. Norma Kesusilaan : Norma kesusilaan adalah aturan-aturan hidup tentang tingkah laku yang baik dan buruk, yang berupa “bisikan-bisikan” atau suara batin yang berasal dari hati nurani manusia. Berdasar kodrat kemanusiaannya, hati nurani setiap manusia “menyimpan” potensi nilai-nilai kesusilaan. Hal ini analog dengan hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia karena kodrat kemanusiaannya, sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena potensi nilai-nilai kesusilaan itu tersimpan pada hati nurani setiap manusia (yang berbudi), maka hati nurani manusia dapat disebut sebagai sumber norma kesusilaan. Ini sejalan dengan pendapat Widjaja tentang moral dihubungkan dengan etika, yang membicarakan tata susila dan tata sopan santun. Tata susila mendorong untuk berbuat baik, karena hati kecilnya menganggap baik, atau bersumber dari hati nuraninya, lepas dari hubungan dan pengaruh orang lain (Widjaja, 1985: 154).Tidak jarang ketentuan-ketentuan norma agama juga menjadi ketentuan-ketentuan norma kesusilaan, sebab pada hakikatnya nilai-nilai keagamaan dan kesusilaan itu berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Demikian pula karena sifatnya yang melekat pada diri setiap manusia, maka nilai-nilai kesusilaan itu bersifat universal. Dengan kata lain, nilai-nilai kesusilaan yang universal tersebut bebas dari dimensi ruang dan waktu, yang berarti berlaku di manapun dan kapanpun juga. Sebagai contoh, tindak pemerkosaan dipandang sebagai tindakan yang melanggar kesusilaan, di belahan dunia manapun dan pada masa kapanpun juga. Kepatuhan terhadap norma kesusilaan akan menimbulkan rasa bahagia, sebab yang bersangkutan merasa tidak mengingkari hati nuraninya. Sebaliknya, pelanggaran terhadap norma kesusilaan pada hakikatnya merupakan pengingkaran terhadap hati nuraninya sendiri, sehingga sebagaimana dikemukakan dalam sebuah mutiara hikmah, pengingkaran terhadap hati nurani itu akan menimbulkan penyesalan atau bahkan penderitaan batin. Inilah bentuk sanksi terhadap pelanggaran norma kesusilaan.
  3. Norma Kesopanan : Norma kesopanan adalah aturan hidup bermasyarakat tentang tingkah laku yang baik dan tidak baik baik, patut dan tidak patut dilakukan, yang berlaku dalam suatu lingkungan masyarakat atau komunitas tertentu. Norma ini biasanya bersumber dari adat istiadat, budaya, atau nilai nilai masyarakat. Ini sejalan dengan pendapat Widjaja tentang moral dihubungkan dengan eika, yang membicarakan tentang tata susila dan tata sopan santun. Tata sopan santun mendorong berbuat baik, sekedar lahiriah saja, tidak bersumber dari hati nurani, tapi sekedar menghargai menghargai orang lain dalam pergaulan (Widjaja, 1985: 154). Dengan demikian norma kesopanan itu bersifat kultural, kontekstual, nasional atau bahkan lokal. Berbeda dengan norma kesusilaan, norma kesopanan itu tidak bersifat universal. Suatu perbuatan yang dianggap sopan oleh sekelompok masyarakat mungkin saja dianggap tidak sopan bagi sekelompok masyarakat yang lain. Sejalan dengan sifat masyarakat yang dinamis dan berubah, maka norma kesopanan dalam suatu komunitas tertentu juga dapat berubah dari masa ke masa. Suatu perbuatan yang pada masa dahulu dianggap tidak sopan oleh suatu komunitas tertentu mungkin saja kemudian dianggap sebagai perbuatan biasa yang tidak melanggar kesopanan oleh komunitas yang sama. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa norma kesopanan itu tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Sanksi terhadap pelanggaran norma kesopanan adalah berupa celaan, cemoohan, atau diasingkan oleh masyarakat. Akan tetapi sesuai dengan sifatnya yang “tergantung” (relatif), maka tidak jarang norma kesopanan ditafsirkan secara subyektif, sehingga menimbulkan perbedaan persepsi tentang sopan atau tidak sopannya perbuatan tertentu. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu ketika seorang pejabat di Jawa Timur sedang didengar kesaksiannya di pengadilan dan ketika seorang terdakwa di ibu kota sedang diadili telah ditegur oleh hakim ketua, karena keduanya dianggap tidak sopan dengan sikap duduknya yang “jegang” (menyilangkan kaki).

 

Apa yang dimaksud dengan Norma Hukum

Norma hukum adalah aturan-aturan yang dibuat oleh lembaga negara yang berwenang, yang mengikat dan bersifat memaksa, demi terwujudnya ketertiban masyarakat. Sifat “memaksa” dengan sanksinya yang tegas dan nyata inilah yang merupakan kelebihan norma hukum dibanding dengan ketiga norma yang lain. Negara berkuasa untuk memaksakan aturan-aturan hukum guna dipatuhi dan terhadap orang-orang yang bertindak melawan hukum diancam hukuman. Ancaman hukuman itu dapat berupa hukuman bandan atau hukuman benda. Hukuman bandan dapat berupa hukuman mati, hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman penjara sementara. Di samping itu masih dimungkinkan pula dijatuhkannya hukuman tambahan, yakni pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang tertentu, dan pengumuman keputusan pengadilan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Pengertian

To Top