Connect with us

Pengertian

Penjelasan Pengertian Migrasi Menurut Ahli, Faktor-faktornya dan Juga Teori-teori Migrasi

Pengertian migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah tujuan dengan maksud menetap. Sedangkan migrasi sirkuler ialah gerak penduduk dari suatu tempat ke tempat lain tanpa ada maksud untuk menetap. Migrasi sirkuler inipun bermacam macam jenisnya ada yang ulang alik, periodik, musiman, dan jangka panjang. Migrasi sirkuler dapat terjadi antara desa desa, desa kota dan kota kota (Ida Bagus Mantra, 2000).

Sedangkan menurut (Ninik Widiyanti,S, 1987) pengertian migrasi adalah perpindahan penduduk dari satu daerah / Negara ke daerah / Negara yang lain. Definisi lain, migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik, negara, batas administrasi atau batas bagian dalam suatu Negara (R.Munir, 2000).

 

Faktor-faktor Migrasi

Menurut Everett S. Lee (Mantra, 2000), volume migrasi di suatu wilayah berkembang sesuai dengan tingkat keragaman daerah-daerah di wilayah tersebut. Di daerah asal dan di daerah tujuan, menurut lee, terdapat faktor-faktor yang disebut sebagai :

  1. Faktor positif (+) yaitu faktor yang memberikan nilai keuntungan bila bertempat tinggal di tempat tersebut.
  2. Faktor negatif (-) yaitu faktor yang memberikan nilai negatif atau merugikan bila tinggal di tempat tersebut sehingga seseorang merasa perlu untuk pindah ke tempat lain.
  3. aktor netral (0) yaitu yang tidak berpengaruh terhadap keinginan seorang individu untuk tetap tinggal di tempat asal atau pindah ke tempat lain.

Selain ketiga faktor diatas terdapat faktor rintangan antara. Rintangan Antara adalah hal-hal yang cukup berpengaruh terhadap besar kecilnya arus mobilitas penduduk. Rintangan Antara dapat berupa : ongkos pindah, topografi wilayah asal dengan daerah tujuan atau sarana transportasi. Faktor yang tidak kalah penting yang mempengaruhi mobilitas penduduk adalah faktor individu, karena faktor individu pula yang dapat menilai positif atau negatifkah suatu daerah dan memutuskan untuk pindah atau bertahan di tempat asal, jadi menurut Everett S. Lee (Mantra, 2000) arus migrasi dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :

  1. Faktor individu.
  2. Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal, seperti : keterbatasan kepemilikan lahan, upah di desa rendah, waktu luang (Time lag) antara masa tanam dan masa panen, sempitnya lapangan pekerjaan di desa, terbatasnya jenis pekerjaan di desa.
  3. Faktor di daerah tujuan, seperti : tingkat upah yang tinggi, luasnya lapangan pekerjaan yang beraneka ragam.
  4. Rintangan antara daerah asal dengan daerah tujuan, seperti : sarana transportasi, topografi desa ke kota dan jarak desa kota.

 

Teori-teori Migrasi

Menurut Lee dalam (Ida Bagoes Mantra, 2000) menjelaskan tentang teori migrasi yaitu sebagai berikut :

A) Migrasi dan Jarak

  1. Banyak migran hanya menempuh jarak dekat, dan jumlah migrant di suatu pusat yang dapat menampung migran-migran itu makin menurun karena jauhnya jarak yang ditempuh.
  2. Migran yang menempuh jarak jauh umumnya lebih suka menuju ke pusat-pusat perdagangan dan industry yang penting.

B) Migrasi Bertahap

  1. Karena itu pada umunya terjadi suatu perpindahan penduduk berupa arus migrasi terarah ke pusat-pusat industry ada perdagangan penting yang dapat menyerap para migrant.
  2. Penduduk daerah pedesaan yang langsung berbatasan dengan kota yang bertumpuh cepat itu berbondong-bondong pindah ke sana. Turunnya jumlah penduduk di desa sebagai akibat dari migrasi itu akan diganti oleh migran dari daerah-daerah terpencil. Hal ini akan terus berlangsung hingga daya tarik salah satu dari kota-kota yang bertumbuh cepat itu tahap demi tahap terasa pengaruhnya di pelosok-pelosok yang sangat terpencil.
  3. Proses penyebaran adalah kebalikan penyerapan dan memperlihatkan gejala-gejala yang sama.

C) Arus dan Arus Balik

Setiap arus migrasi utama menimbulkan arus balik sebagai penggantinya. Dalam terminology modern digunakan alir balik sebagai pengganti istilah Revenstein arus dan arus balik.

D) Terdapat perbedaan-perbedaan antara desa dan kota mengenai kecenderungan penduduk untuk migrasi. Penduduk kota kurang berminat bermigrasi, ke daerah-daerah pedesaan di suatu Negara.

E) Teknologi dan Migrasi

Peningkatan sarana perhubungan, perkembangan industry dan perdagangan menyebabkan meningkatnya migrasi.

F) Motif ekonomi merupakan dorongan utama Undang-undang yang tidak baik atau menindas, pajak yang tinggi, iklim yang tidak menarik, lingkungan masyarakat yang tidak menyenangkan, dan paksaan (perdagangan budak, transportasi) semua itu dari dahulu sampai sekarang menimbulkan arus migrasi, tetapi tidak satupun dari arus-arus itu volumenya dapat dibandingkan dengan arus volume migran yang didorong oleh keinginan untuk memperbaiki kehidupannya dalam bidang material.

Sedang menurut (Todaro,2000) menjelaskan tentang teori migrasi yaitu sebagai berikut: Teori ini bertolak dari asumsi bahwa migrasi dari desa ke kota. Pada dasarnya merupakan suatu fenomena ekonomi. Keputusan seorang individu untuk melakukan migrasi ke kota merupakan suatu keputusan yang telah dirumuskan secara rasional. Teori Todaro mendasarkan pada pemikiran bahwa arus migrasi desa ke kota berlangsung sebagai tanggapan terhadap adanya perbedaan pendapatan antara desa dengan kota. Pendapatan disini bukanlah pendapatan aktual namun “penghasilan yang diharapkan” (expected income). Adapun premi dasar yang dianut dalam teori ini adalah bahwa para migran senantiasa mempertimbangkan pasar-pasar tenaga kerja yang tersedia bagi mereka di sektor pedesaan dan perkotaan. Serta kemudian memilih salah satu diantaranya yang sekiranya akan dapat memaksimumkan keuntungan yang diharapkan. Besar kecilnya keuntungan-keuntungan yang mereka harapkan (expected gain) itu diukur berdasarkan (identik dengan) besar kecilnya angka selisih antara pendapatan riil dari pekerjaan dikota dan dari pekerjaan di desa. Angka selisih tersebut juga senantiasa diperhitungkan terhadap besar kecilnya peluang migran yang bersangkutan untuk mendapatkan pekerjaan di kota.

Teori Todaro beranggapan bahwa segenap angkatan kerja (baik yang aktual maupun potensial) senantiasa membandingkan penghasilan yang “diharapkan” selama kurun waktu tertentu di sekitar perkotaan (yaitu, selisih antara penghasilan dan biaya migrasi) dengan rata-rata tingkat penghasilan yang bisa diperoleh di pedesaan. Mereka baru akan memutuskan untuk melakukan migrasi jika penghasilan bersih kota melebihi penghasilan bersih yang tersedia di desa. Arus migrasi akan berhenti dengan sendirinya jika selisih pendapatan desa dan kota mengecil, sampai akhirnya sama. Migrasi dari desa ke kota itu bukanlah suatu proses positif yang menyamakan tingkat pendapatan di kota dan di desa seperti yang diungkapkan oleh model-model kompetitif, melainkan merupakan kekuatan yang menyeimbangkan jumlah-jumlah pendapatan yang diharapkan (expected income) di pedesaan serta di perkotaan. Teori Migrasi Todaro memiliki empat pemikiran dasar sebagai berikut :

  1. Migrasi desa-kota dirangsang, terutama sekali oleh berbagai pertimbangan ekonomi yang rasional dan yang langsung berkaitan dengan keuntungan atau manfaat dan biaya-biaya relatif migrasi itu sendiri.
  2. Keputusan untuk bermigrasi tergantung pada selisih antara tingkat pendapatan yang diharapkan di kota dan tingkat pendapatan actual di pedesaan (pendapatan yang diharapkan adalah sejumlah pendapatan yang secara rasional bisa diharapkan akan tercapai di masa mendatang). Besar kecilnya selisih pendapatan itu sendiri ditentukan oleh dua variable pokok, yaitu selisih upah aktual di kota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan yang diharapkan.
  3. Kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan.
  4. Laju migrasi desa-kota bisa saja terus berlangsung meskipun telah melebihi laju pertumbuhan kesempatan kerja. Kenyataan ini memiliki landasan yang rasional; karena adanya perbedaan ekspetasi pendapatan yang sangat lebar., yakni para migran pergi ke kota untuk meraih tingkat upah yang lebih tinggi yang nyata (memang tersedia). Dengan demikian, lonjakan pengangguran di perkotaan merupakan akibat yang tidak terhindarkan dari adanya ketidakseimbangan kesempatan ekonomi yang sangat parah antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan, dan ketimpangan-ketimpangan seperti itu amat mudah ditemui di kebanyakan Negara-negara Dunia Ketiga.

 

Faktor – faktor Pendorong dan Penarik penduduk melakukan migrasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi ada dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor penarik (Rozy Munir, 2000)

A) Faktor – faktor Pendorong penduduk melakukan migrasi; Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan

B) Faktor – faktor Penarik penduduk melakukan migrasi

  • Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaikan taraf hidup.
  • Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

 

Pola Migrasi Desa – Kota

Pengertian pola menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga Pusat Bahasa Depdiknas (2002), pola adalah bentuk.

Pola migrasi adalah bentuk perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain.

Migrasi dapat dikelompokkan dalam migrasi permanen dan nonpermanen termasuk di dalamnya migrasi musiman dan sirkuler atau ulang alik. Migrasi permanen adalah gerak penduduk yang melintasi batas wilayah asal menuju ke wilayah lain dengan ada niatan menetap di daerah tujuan,sedangkan perpindahan penduduk dengan tidak ada niatan menetap disebutmigrasi nonpermanen (Ida Bagoes Mantra, 2003)

Migrasi permanen apabila meninggalkan daerah asal enam bulan atau lebih, sedang migrasi nonpermanen dibedakan menjadi dua yaitu : ulang alik (nglaju) dan sirkuler. Nglaju (commuting) adalah bentuk mobilitas penduduk dari satu tempat ke tempat lain dan kembali ke tempat asal pada hari itu juga. Sedang sirkuler yaitu apabila migran ada niatan mondok atau nginep di daerah tujuan. Mobilitas ulang alik konsep waktunya diukur dengan enam jam atau lebih meninggalkan daerah asal dan kembali pada hari yang sama. Sirkulasi lamanya meninggalkan daerah asal lebih dari satu hari dan lebih dari enam bulan. Migrasi sirkuler yaitu sebagai perpindahan dari desa ke kota besar yang mengakibatkan suatu migrasi paling tidak sekali, setiap enam bulan (Ida Bagoes Mantra, 2000).

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Pengertian

To Top