Connect with us

Pengertian

Pengertian Iklim dan Klasifikasi Iklim

Pengertian Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca di satu daerah yang cukup luas dan dalam kurun waktu yang cukup lama, minimal 30 tahun, yang sifatnya tetap (Tjasyono, 2004). Namun akibat adanya aktivitas manusia seperti urbanisasi, deforestasi, serta industrialisasi, mempercepat adanya perubahan iklim dalam kurun waktu yang relatif cepat, sedangkan perubahan iklim tersebut berdampak dalam berbagai sektor kehidupan, salah satunya pertanian. Kondisi tersebut yang kemudian menjadikan klasifikasi iklim sebagai dasar dalam melakukan mitigasi terhadap adanya dampak negatif dari perubahan iklim.

Cuaca dan iklim merupakan dua kondisi yang hampir sama tetapi berbeda pengertian khususnya terhadap kurun waktu. Cuaca merupakan bentuk awal yang dihubungkan dengan penafsiran dan pengertian akan kondisi fisik udara sesaat pada suatu lokasi dan suatu waktu, sedangkan iklim merupakan kondisi lanjutan dan merupakan kumpulan dari kondisi cuaca yang kemudian disusun dan dihitung dalam bentuk rata-rata kondisi cuaca dalam kurun waktu tertentu (Winarso, 2003). Menurut Rafi’I (1995) Ilmu cuaca atau meteorology adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji peristiwa-peristiwa cuaca dalam jangka waktu dan ruang terbatas, sedangkan ilmu iklim atau klimatologi adalah ilmu pengetahuan yang juga mengkaji tentang gejala-gejala cuaca tetapi sifat-sifat dan gejala-gejala tersebut mempunyai sifat umum dalam jangka waktu dan daerah yang luas di atmosfer permukaan bumi.

Proses terjadinya cuaca dan iklim merupakan kombinasi dari variable-variabel atmosfer yang sama yang disebut unsure-unsur iklim. Unsur-unsur iklim ini terdiri dari radiasi surya, suhu udara, kelembaban udara, awan, presipitasi, evaporasi, tekanan udara dan angin. Pengendali iklim atau faktor yang dominan menentukan perbedaan iklim antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain menurut Lakitan (2002) adalah (1) posisis relatif terhadap garis edar matahari (posisi lintang), (2) keberadaan lautan atau permukaa airnya, (3) pola arah angin, (4) topografi (rupa permukaan daratan bumi), dan (5) kerapatan dan jenis vegetasi.

 

Hujan atau Presipitasi

Hujan merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena keragamannya sangat tinggi baik secara spasial maupun temporal, sehingga kajian tentang iklim lebih banyak menggunakan hujan sebagai parameternya. Menurut Lakitan (2002), presipitasi adalah proses jatuhnya butiran air atau kristal es ke permukaan bumi.

Distribusi Hujan

Distibusi curah hujan dapat dibagi menjadi dua, yaitu distribusi geografis (keruangan) dan distribusi menurut waktu (Subarkah, 1980). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi keruangan adalah latitude, posisi dan luas daerah, jarak dari sumber air, efek geografis, dan ketinggian (altitude). Sementara itu, distribusi menurut waktu akan terjadi menurut pola dan suatu siklus tertentu.

Faktor Topografi

Topografi dapat bersifat mendukung terjadinya hujan ataupun
menghambat terjadinya hujan. Topografi akan mendukung terjadinya hujan apabila kenaikan massa udara melalui rintangan orografis yang menyebabkan penurunan suhu masa udara. Akibatnya pada elevasi yang lebih tinggi akan terjadi hujan yang lebih besar jika dibandingkan dengan elevasi yang lebih rendah, pada lereng yang membelakangi angin. Sebaliknya topografi dikatakan menghambat terjadinya hujan apabila angin tidak langsung turun seteleh melewati ritangan orografis. Tetapi langsung naik tinggi pada jarak setelah angin melewati rintangan tersebut. (Subarkah, 1980).

Faktor Arah Hadap Lereng

Faktor lereng yang berpengaruh adalah yang menghadap arah angin pembawa uap air. Lereng yang menghadap arah datangnya angin pembawa hujan akan memperoleh hujan lebih banyak daripada lereng yang menghadap ke arah berlawanan (Sandy, 1987).

Faktor Suhu

Suhu berpengaruh terhadap penguapan yang akan mempengaruhi kelembaban dan menyebabkan perbedaan tekanan udara. Perbedaan tekanan udara ini akan mengakibatkan uap air bergerak dari daerah dengan tekanan udara tinggi ke daerah bertekanan udara rendah dengan bantuan angin yang bertiup. Akibatnya terjadi peningkatan kelembapan. Kelembapan udara yang tinggi disertai dengan perndinginan sampai titik embun menyebabkan timbulnya int kondensasi yang berkembang menjadi tetes air (Linsley, 1975).

Faktor Angin

Angin dapat menghambat atau mendukung terjadinya angin pada suatu daerah. Angin dapat menghambat terjadinya hujan apabila awan yang telah terbentuk mendapat dorongan dari angin dan berpindah ke daerah lain. Sehingga di daerah awal tidak terjadi hujan, sementara itu kemungkinan terjadi hujan di tempat lain (Sandy, 1987).

 

Klasifikasi iklim menurut Oldeman di Indonesia

Unsur-unsur yang menunjukkan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dari klasifikasi iklim yang dilakukan oleh para pakar atau institusi yang relevan. Unsur iklim yang sering dipakai tersebut adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Unsur iklim yang lain, seperti cahaya dan angin, sangat jarang digunakan sebagai dasar klasifikasi iklim. Cahaya tidak digunakan sebagai dasar klasifikasi iklim walaupun cahaya yang diterima akan berbeda intensitas dan lama penyinarannya sesuai dengan posisi lintang bumi, karena pembagian zona iklim berdasarkan cahaya matahari ini akan sama dengan pembagian bumi berdasarkan garis-garis lintang yang ada. Angin juga tidak digunakan sebagai dasar klasifikasi
iklim, walaupun angin juga beragam baik arah maupun kecepatannya. Pembagian zona iklim berdasarkan angin agak sulit untuk dilakukan karena tidak konsistennya tingkah laku angin tersebut.

Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik, yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk kegunaan di bidang pertanian, penerbangan, atau kelautan (pelayaran dan penangkapan ikan). Klasifikasi iklim yang spesifik sesuai dengan kegunaannya ini tetap mmenggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi dengan hanya memilih data tentang unsur atau unsur-unsur iklim yang relevan, yang secara langsung akan mempengaruhi aktivtas atau obyek dalam bidang-bidang tersebut.

Metode Klasifikasi Iklim

Di Asia Tenggara, pemilihan sistem penanaman ditentukan oleh ada tidaknya ketersediaan air. Tadah hujan atau irigasi yang tergantung curah hujan, distribusi curah hujan bulanan merupakan elemen penting dalam perencanaan dan pemahaman sistem penanaman. Klasifikasi pola curah hujan yang telah dilakukan dalam berbagai cara. Klasifikasi iklim pertama berdasarkan curah hujan bulanan
di Indonesia diusulkan oleh Mohr (1933). Sistemnya didasarkan pada jumlah bulan kering dan basah, dihitung dari rata-rata jangka panjang. Ketika curah hujan bulanan melebihi penguapan bulanan (atau lebih dari 100 mm) bulan disebut basah. Sebulan kering menerima kurang dari 60 mm. Boerema (1941) mengatur profil curah hujan dan berakhir dengan 69 jenis untuk Jawa dan Bali saja. Smith dan Fergusson (1951) memperbaiki sistem Mohr, terutama dengan menghitung jumlah bulan tahun kering dan basah tahun, dan mengambil hasil nilai rata-rata. Mereka kemudian memperkenalkan faktor Q, yang merupakan rasio dari rata-rata jumlah bulan kering dan rata-rata jumlah bulan basah. Dengan cara ini mereka ditandai delapan zona, menggunakan kenaikan 1,5 bulan kering untuk menentukan zona. Zona A memiliki 0 – 1,5 bulan kering (Q 0.14), Zona B memiliki 1,5 sampai 3 bulan kering, Zona C memiliki 3 sampai 4.5 bulan kering, dan lainnya.

Meskipun klasifikasi yang disebutkan di atas menunjukkan area yang dapat dianggap kering, lembab atau basah, tidak memberikan informasi yang cukup tentang potensi pertanian suatu daerah. Definisi dari bulan basah didasarkan pada penguapan bulanan. Namun di bidang pertanian satu lebih mengacu pada evapotranspirasi bulanan. Rasio jumlah bulan kering dan basah tidak menunjukkan panjang periode basah atau kering berturut-turut. Sebuah klasifikasi agroklimat yang mempertimbangkan kondisi iklim disiapkan oleh Van de Eelaart (1973) untuk Thailand. Zona yang ditandai dengan jumlah bulan lembab berturut-turut selama periode yang tanah memiliki kelembaban yang cukup untuk pertumbuhan tanaman optimal tanpa irigasi atau sumber air tambahan lainnya. Bulan lembab didefinisikan sebagai bulan yang ketika curah hujan ditambah kelembaban tanah yang disimpan lebih besar dari evapotranspirasi potensial. Kelemahannya adalah bahwa dua dari tiga parameter ini harus diestimasi (penyimpanan kelembaban tanah dan evapotranspirasi). Selain itu, hanya dapat digunakan untuk tanaman yang tumbuh di dataran tinggi.

Klasifikasi iklim disajikan di bawah ini didasarkan pada konsep periode bulan basah dan kering berturut-turut sepanjang tahun. Oleh karena itu, klasifikasi iklim didasarkan pada tipe monsun. Panjang periode basah didasarkan pada pola tanam yang potensial. Akhirnya ditetapkan bahwa hal tersebut mampu untuk menghasilkan padi sawah maupun tanaman dataran tinggi.

Curah hujan diklasifikasikan pada tingkat tertinggi atas dasar jumlah bulan basah berturut-turut. Bulan basah didefinisikan sebagai bulan dengan curah hujan yang cukup untuk tumbuh sebuah tanaman padi sawah. Berdasarkan pertimbangan diuraikan sebelumnya bulan basah harus memiliki setidaknya 200 mm curah hujan. Meskipun panjang periode tumbuh padi terutama ditentukan oleh varietas yang digunakan, jangka waktu lima bulan berturut-turut basah dianggap optimal untuk satu tanaman. Jika ada lebih dari 9 bulan basah petani dapat tumbuh dua tanaman padi. Jika ada kurang dari 3 bulan berturut-turut tidak ada beras basah dapat dibudidayakan tanpa irigasi tambahan.

Pertimbangan ini kemudian menghasilkan lima zona utama:
A : lebih dari 9 bulan basah berturut-turut
B : 7 – 9 bulan basah berturut-turut
C : 5 – 6 bulan basah berturut-turut
D : 3 – 4 bulan basah berturut-turut
E : kurang dari 3 bulan basah berturut-turut
Stratifikasi kedua adalah jumlah bulan kering berturut-turut. Berdasarkan pertimbangan kondisi lingkungan tanaman untuk tumbuh, setidaknya 100 mm curah hujan per bulan diperlukan untuk tumbuh sebagian besar tanaman dataran tinggi. Oleh karena itu bulan kering dianggap memiliki kurang dari 100 mm curah hujan. Jika ada kurang dari 2 bulan kering, para petani dapat dengan mudah mengatasi periode seperti itu, karena umumnya akan ada cukup kelembaban tersedia dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Jika periode bulan kering adalah antara 2 dan 4, perencanaan yang matang akan diperlukan jika petani mencoba budidaya sepanjang tahun. Periode 5 sampai 6 bulan kering berturut-turut dianggap terlalu panjang jika irigasi tambahan tidak tersedia. Sepanjang tahun budidaya memiliki banyak bahaya. Hal ini bahkan lebih jadi jika periode kering melebihi enam bulan.

Klasifikasi agroklimat menjelaskan kondisi lingkungan dalam kaitannya dengan kebutuhan tanaman. Kendala utama dalam pertanian tradisional di daerah tropis adalah jumlah air yang tersedia untuk evapotranspirasi oleh kanopi tanaman. Pola tanam sebagian besar diatur oleh distribusi curah hujan musiman, kecuali untuk lahan sawah yang diirigasi. Keterbatasan data faktor iklim selain data curah hujan, dan variabilitas lokal dan musiman yang besar curah hujan dibandingkan dengan data iklim lainnya menyebabkan klasifikasi yang ditetapkan menggunakan curah hujan bulanan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Pengertian

To Top